Top List

Atina Maulia dan Inspirasi Kesuksesan Bisnis Vanilla Hijab

Vanilla hijab – Kehadiran sosial media memang membawa pengaruh positif bahkan signifikan bagi beberapa orang. Salah satunya adalah Atina Maulia yang juga pendiri dari Vanilla Hijab.

Salah satu bisnis hijab yang sukses dan dimulai dari sosial media. Ada banyak kisah inspirasi yang bisa Anda dapatkan dari kisah perjalanan Vanilla Hijab, berikut ini adalah beberapa di antaranya :

1. Vanilla Hijab Lahir Sebagai Pelarian

Perjalanan Atina Maulia dan Vanilla Hijab dimulai dari rasa bosan yang dirasakan oleh Atina. Pada awalnya, Atina adalah seorang mahasiswa ITB jurusan Teknik Perminyakan. Namun, tiba – tiba saja ia sakit dan ternyata mengalami penyakit autoimun. Karena hal ini, ia jadi harus melepas mimpinya di dunia perminyakan dan fokus menjalani pengobatan.

Di sela – sela waktu berobat, rasa bosan seringkali datang. Dari sinilah bibit Vanilla Hijab mulai dijalankan sambil mengisi waktu luang yang ia miliki. Pada masa ini, Vanilla Hijab masih menjadi sebuah online shop yang menjual hijab. Akan tetapi, seiring waktu, brand ini mulai menunjukkan dirinya sebagai salah satu brand muslimah yang layak bersaing dengan brand lainnya.

2. Pemilihan Nama Vanilla Hijab Sebagai Nama Brand

Vanilla hijab

Pemilihan nama Vanilla Hijab sebagai brand berangkat dari filosofi yang cukup sederhana. Di tengah kondisi yang berbeda dari ekspektasi, Atina merasa benci dengan kehidupan yang ia jalani. Karena itu, ia berpikir bahwa nama brand yang ia gunakan harus bisa membuat dirinya kembali bersemangat.

Salah satu hal yang sering membuat semangat adalah makanan. Maka nama Vanilla Hijab menjadi salah satu opsi nama yang dipilih oleh Atina. Selain itu, penggunaan nama Vanilla juga rasanya akan lebih mudah diingat.

3. Menjalankan Bisnis Vanilla Hijab Sebelum Berhijab

Pada awalnya, Atina menjalankan bisnis brand ini sebelum ia berhijab. Saat itu, ia sedang merasa bingung dan merasa perlu mencari uang meskipun memiliki kondisi yang terbatas. Ada beberapa pilihan menghasilkan uang yang ingin ia coba. Termasuk keinginan menjual pisang goreng.

Suatu hari, Atina iseng meminjam ponsel kakaknya untuk buka Instagram. Pada saat itu, ia melihat kakaknya mengikuti Dian Pelangi dan merasa lucu melihat orang – orang yang menggunakan hijab. Selain itu, jualan hijab juga dirasa lebih sederhana dibandingkan menjual sepatu atau baju.

Setelah itu, Atina menyampaikan keinginan tersebut pada mamanya dan meminta diantar ke Mayestik. Dan memanfaatkan iPad semasa kuliah untuk mengambil foto bahan yang akan digunakan. Pemesanan sendiri baru dilakukan jika ada orang yang membeli dan sudah membayar.

Karena sering bolak – balik ke berbagai toko kain, termasuk Tanah Abang dan Thamrin City, tak jarang ia digoda oleh abang – abang yang berada di sana. Di tahun ketiga brand ini , Atina berniat mencoba menggunakan hijab. Dan ternyata rasanya lebih nyaman dan terlindungi.

4. Vanilla Hijab : Dari Online Shop ke Label Hijab Sendiri

Dari Online Shop ke Label Hijab Sendiri

Pertimbangan untuk memiliki label sendiri tentu saja sudah ada sejak awal. Namun, keputusan untuk mantap menjadi label sendiri baru dimulai sejak tahun kedua atau ketiganya. Ada beberapa alasan yang membuat niat menjadi label sendiri semakin kuat. Salah satunya adalah rasa jenuh dengan stok barang yang ada di Thamrin City dan Tanah Abang. Terutama dari sisi warna dan bahan.

Namun, bagi Anda yang saat masih berusia muda rasanya susah untuk mendapat kepercayaan orang lain kalau ingin membeli barang dalam jumlah banyak. Karena itu, membeli barang di Mayestik jadi alternatif yang paling memungkinkan.

Sayangnya, harga bahan di Mayestik semakin mahal dari waktu ke waktu. Karena itu, keinginan untuk mencari penjahit sendiri juga menjadi semakin besar. Untuk mewujudkan hal ini, Atina dan papanya berkeliling di daerah Haji Nawi- Jakarta setiap hari untuk menemukan penjahit yang pas.

5. Vanilla Hijab Mulai Merambah ke Tunik, Blus, dan Dress

Setelah sukses dengan penjualan hijab, brand ini mulai mencoba peruntungan memperluas usahanya. Di tahun ketiga, brand ini mencoba menjual rok yang ia beli jadi. Melihat responnya yang bagus, maka ia mulai mempertimbangkan hal ini.

Kemudian, Vanilla Hijab mengobrol dengan penjual rok tersebut dan menanyakan apakah sang penjual memiliki konveksi atau tidak. Jadi, Vanilla Hijab tetap mencari bahannya, kemudian konveksi yang dimiliki penjual tersebut yang akan menjahitnya. Sejak itulah Vanilla Hijab mulai merambah ke penjualan busana.

6. Dari Show Tunggal ke London Modest Fashion Week

Dari Show Tunggal ke London Modest Fashion Week

Menggelar fashion show tunggal tentu saja bukan hal yang mudah. Saat pertama kali membuat fashion show tunggal, Atina juga belum benar – benar tau bagaimana proses yang harus ia jalani. Berbekal keyakinan, ia memberi informasi kesana sini hingga akhirnya berhasil menggelar fashion show tunggal.

Beberapa waktu kemudian, pihak London Modest Fashion Week menghubungi brand ini dan mengundang untuk tampil di acara tersebut. Namun, karena waktu persiapan yang mepet, maka undangan tersebut terpaksa dilepas.

7. Rahasia Sukses Vanilla Hijab

Membangun bisnis yang sustain tentu saja tidak mudah. Banyak hal yang perlu dihadapi. Namun, sebagai manusia, seseorang hanya bisa berusaha sambil mengharap ridho Allah. Selain itu, adanya visi usaha jangka panjang juga penting agar ketika ujian datang, kita tidak jadi gampang menyerah.

Baca juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *