Top List

Kenali Sejak Dini 5 Penyebab Penyakit Lupus

Penyakit lupus – Penyakit peradangan kronis atau penyakit lupus merupakan penyakit yang menyerang system imun seseorang. Sehingga, penyakit ini juga sering disebut sebagai penyakit autoimun. Yaitu kondisi dimana system imun seseorang menyerang organ tubuh penderitanya sendiri.

Pada saat seseorang terserang penyakit autoimun, maka system kekebalannya tidak mampu membedakan mana zat yang tidak diinginkan tubuh, mana antigen, dan mana jaringan sehat. Sehingga, antibody malah menyerang jaringan sehat dan antigen tubuh. Efeknya, orang yang mengalami lupus akan mengalami pembengkakan, nyeri, dan kerusakan jaringan.

Umumnya, penderita lupus memiliki jenis antibodi antinuclear (ANA) yang berkembang. ANA akan bereaksi dengan bagian inti sel yang menjadi pusat komando sel. Karena itu, antibody jadi bisa menyerang DNA dan menyebabkan penyakit lupus jadi mengganggu organ lainnya.

Ada beberapa sebab mengapa penyakit lupus bisa dialami oleh seseorang :

1. Penyakit Lupus Karena Faktor Hormon

Penyakit Lupus Karena Faktor Hormon

Salah satu system penting dalam tubuh manusia adalah system hormone. Banyak fungsi tubuh yang pengaturannya melibatkan hormone. Termasuk juga penyakit dan kesehatan. Delapan dari sepuluh penderita lupus adalah wanita. Hormon estrogen lebih banyak dihasilkan oleh wanita dibanding pria.

Estrogen diketahui sebagai hormon yang memperkuat sistem kekebalan tubuh (immunoenhancing), yang artinya wanita memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dibanding dengan pria. Dengan begitu, wanita lebih mudah terserang penyakit autoimun bila dibandingkan oleh pria. Perubahan hormon saat masa kehamilan atau pubertas juga dapat memicu timbulnya lupus. Tingginya kadar estrogen saat hamil diduga memicu lupus.

Biasanya, gejala lupus pada perempuan umum mengalami peningkatan pada masa sebelum periode menstruasi. Pada saat tersebut, hormone estrogen sedang berada dalam jumlah yang tinggi dalam tumbuh. Semakin tinggi kadar estrogen, diperkirakan dapat membuat tingkat keparahan lupus juga akan semakin meningkat.

2. Penyakit Lupus Karena Faktor Genetik

Berdasarkan penelitian yang banyak dilakukan, diketahui bahwa penyakit lupus juga dapat dipengaruhi oleh factor genetic. Ada sekitar 50 gen yang diduga berkaitan dengan penyakit autoimun ini. Namun, untuk memastikan secara spesifik, masih diperlukan penelitian yang lebih lanjut.

Umumnya, orang – orang dengan kulit berwarna memiliki resiko terkena lupus yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang – orang kulit putih. Selain itu, jika seseorang dalam keluarga mengalami penyakit ini, maka ia memiliki resiko terkena penyakit lupus yang relative lebih besar dari orang umumnya.

Selain itu, orang dari keluarga yang memiliki penyakit autoimun lain juga memiliki resiko terkena penyakit lupus. Misalnya jika salah satu anggota keluarga atau kerabat memiliki penyakit tiroiditis, anemia hemolitik, atau idiopatik trombositopenia purpura, maka Anda perlu berhati – hati.

3. Penyakit Lupus Karena Faktor Lingkungan

Selain dua factor sebelumnya, dalam beberapa kasus penyakit lupus juga bisa disebabkan oleh factor lingkungan. Umumnya, hal ini disebabkan oleh bahan kimia atau virus sebagai pemicu. Meskipun masih belum diketahui secara pasti, sinar ultraviolet baik UVA maupun UVB masih diperkirakan sebagai faktor pemicu utama.

Selain itu, ada pula faktor pemicu lain yang diduga dapat menyebabkan penyakit ini. Di antaranya infeksi seperti infeksi virus Epstein – Barr dan juga karena paparan debu silica dalam pertanian dan industry. Dalam beberapa kasus, paparan tembakau yang tinggi, obat – obatan tetrasiklin yang peka terhadap matahari, dan beberapa obat antibiotic juga dapat menyebabkan penyakit ini.

4. Penyakit Lupus Akibat Penggunaan Obat

Penyakit Lupus Akibat Penggunaan Obat

Kadang – kadang, beberapa obat yang digunakan dalam proses pengobatan bisa memberikan efek atau gejala yang cukup mirip dengan gejala lupus yang umum dialami oleh penderita lupus. Akan tetapi, jenis gejala seperti ini tidak akan berlangsung lama dan akan hilang setelah pengguna berhenti mengonsumsi obat tersebut setelah beberapa bulan.

Ada beberapa obat yang umum memberikan efek samping seperti penyakit lupus. Misalnya saja seperti metildopa, procainamide, D-penicillamine yang digunakan sebagai obat untuk mengobati keracunan logam berat, dan minocycline yang merupakan obat jerawat.

5. Penyakit Lupus Pada Bayi Yang Baru Lahir

Ada pula penyakit mirip lupus yang dialami oleh bayi yang baru lahir. Penyakit ini biasa disebut sebagai Lupus Eritematosus Neonatal. Lupus ini disebabkan oleh autoantibodi seperti anti-Ro, anti-La, dan anti-RNP. Saat seorang anak lahir dengan penyakit ini, bukan berarti ibu yang melahirkan anak tersebut juga memiliki penyakit lupus.

Akan tetapi, lupus tipe ini biasanya hanya berlangsung sementara dan hanya muncul di bagian kulit saja. Seiring waktu, gejala lupus ini akan menghilang secara bertahap dan sembuh dengan sendirinya. Namun, dalam beberapa kasus khusus, ada juga kasus penyakit lupus eritematosus neonatal yang perlu penanganan khusus.

Biasanya, penanganan yang diberikan berupa pemasangan alat pacu jantung. Karena di beberapa kasus bayi dengan lupus eritematosus neonatal ini juga bisa menyebabkan congenital heart block. Yaitu kondisi dimana irama jantung pada bayi yang baru lahir mengalami gangguan. Pemasangan alat pacu jantung diharapkan dapat membantu menstabilkan irama jantung bayi.

Baca juga :

Itulah beberapa penyebab penyakit lupus yang umum terjadi. Secara umum, penyakit ini memang bukan penyakit yang bisa disembuhkan. Akan tetapi, tingkat keparahan gejala, dan dampak negatif dari penyakit lupus bisa diminimalisir dengan melakukan pengobatan.

Pengobatan yang dilakukan untuk penderita lupus biasanya mencakup pemberian obat dan juga tindakan preventif agar terhindar dari paparan sinar matahari yang dapat membuat gejala penyakit ini jadi semakin parah.

Obat yang digunakan biasanya berkisar obat antiinflamasi nonsteroid, kortikosteroid, hydroxychloroquine, obat imunosupresan, dan rituximab. Akan tetapi, dosis dan jenis obat yang diberikan bisa berbeda antar penderita. Perbedaan gejala atau perkembangan gejala juga bisa menyebabkan obat yang diberikan berganti dari waktu ke waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *