Top List

7 Hal Ini Bikin Lathi Challenge Jadi Terkesan Nyeremin

Lathi Challenge – pada beberapa tahun terakhir ini sering muncul beragam tantangan di media sosial. Beberapa tantangan mungkin mengarahkan pelaku ke arah yang positif: seperti tantangan menurunkan berat badan, tantangan jadi dermawan, dan lain sebagainya.

Tapi, ada juga tantangan yang memberi efek kebalikan. Tantangan ini justru bisa membuat orang celaka dan mengalami kerugian.

Terlepas dari efek dan dampak yang didapat, tantangan dalam media sosial sendiri memiliki tujuan utama: yaitu hiburan. Hampir tidak ada maksud lain selain untuk hanya sekedar menghibur.

Bahkan, untuk tujuan ini, beberapa orang rela melakukan beragam hal konyol agar mendapat atensi dari para pengikut.

Nah, ngomongin soal tantangan, belakangan ini muncul sebuah tantangan yang menarik untuk dibahas. Kenapa menarik? Karena pada awal kemunculannya, tantangan ini sempat mendapat atensi yang luar biasa. Tapi, semenjak ada salah satu twitt dari seorang ustadz asal Malaysia, banyak orang yang kemudian memperdebatkan tantangan ini.

Wan Dazrin. Itu adalah nama ustadz yang kami maksud. Melalui twitternya dia mengajak masyarakat dan para pengikut untuk menghentikan tantangan Lathi ini.

Oh ya. Lathi sendiri adalah lagu yang dirilis oleh Weird Genius. Munculnya tantangan Lathi dimulai dari Jharna Bhagwani, seorang MUA yang mempelopori tantangan ini.

Ok, lanjut ke twitt ustadz asal negeri Upin Ipin tadi. Jadi, menurutnya tantangan ini tidak lain adalah sesuatu yang bersifat syirik dan kufarat. Ia bahkan menambahkan bahwa tantangan ini bisa menjadi cara untuk mengundang kuntilanak dan berbagai hantu lain.

Tapi apakah benar demikian? Terlepas dari itu, tantangan Lathi sendiri memang memiliki kesan mistis.

Terkait dengan hal ini, kami telah merangkum beberapa hal yang membuat tantangan ini memiliki kesan mistis. Apa saja hal yang kami maksud? Yuk, langsung simak bahasan lengkapnya berikut ini.

lathi challenge

1. Menggunakan bahasa Jawa Kuno – Lathi Challenge

Dari sumber yang berhasil kami kumpulkan, judul dari lagu ini sendiri, Lathi, merupakan salah satu kata yang berasal dari Jawa Alus Kuno. Lathi berarti lidah.

Bahasa Jawa sendiri adalah bahasa yang cukup menarik. Di dalamnya terdapat berbagai tingkatan.

Sedangkan penggunaan bahasa Jawa Kuno sendiri adalah sesuatu yang langka. Bahkan untuk ukuran seni musik, ini adalah sesuatu yang jarang. Bahkan bisa dibilang hampir tidak ada.

Bahasa Jawa, khususnya Jawa Alus Kuno, tiap katanya memiliki banyak makna yang tersembunyi. Dan inilah yang kemudian jadi alasan kenapa lagu ini dikaitkan dengan sesuatu yang mistis.

2. Lirik berbahasa Jawa – Lathi Challenge

Tidak hanya judul. Beberapa penggalan lirik dari lagu ini juga menggunakan bahasa Jawa. Menariknya, pembawaan lirik ini dilakukan dengan sangat epik. Beberapa orang bahkan mengaku merinding saat mendengar lirik tersebut.

Lirik yang dimaksud di sini adalah adalah kalimat “Kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi”.

Jika diartikan lirik ini berarti: “Kamu tidak bisa lari dari kesalahan. Harga diri dari seseorang berasal dari ucapannya atau lidahnya”.

Sebenarnya lirik tadi memiliki arti yang sangat mendalam. Dan penyampaian dengan bahasa Jawa membuat banyak orang menganggap ini sebagai sesuatu yang aneh, bahkan mengarah ke mistis.

3. Dianggap mengandung mantra – Lathi Challenge

Beberapa orang mengatakan bahwa lirik bahasa Jawa yang kami jabarkan di atas adalah mantra yang dimaksud dari lagu ini.

Ya, jika didengarkan secara sekilas, penggalan lirik tadi memang terkesan mirip mantra. Terlebih untuk mereka yang bukan dari orang Jawa. Bahasa Jawa yang asing tadi cenderung mirip dengan mantra.

Jika dilihat dari artinya, kami pikir ini bukanlah mantra. Tapi beberapa orang beranggapan lain.

Orang-orang ini menganggap bahwa mantra Jawa juga tidak memiliki arti yang spesifik. Mantra-mantra ini biasanya lebih mirip petuah dengan arti mendalam seperti yang kami sampaikan di atas.

Yah, terlepas dari ini mantra atau tidak, kami pikir, penggunaan bahasa Jawa dalam lagu seperti ini cukup menarik.

4. Penggunaan properti wayang, kuda lumping dan sebagainya – Lathi Challenge

Beberapa orang berpendapat bahwa lagu ini adalah mantra, merupakan sesuatu yang bisa dikatakan benar. Terlebih jika dikaitkan antara lagu dengan video clip yang digunakan.

Dalam video clip Lathi terdapat properti yang cukup menyita perhatian. Properti itu tidak lain adalah wayang dan kuda lumping.

Seperti diketahui, wayang sendiri merupakan kesenian Jawa. Pun dengan kuda lumping. Kuda lumping bahkan kerap melakukan atraksi debus. Dan itu semakin memperkuat anggapan tentang seramnya lagu ini.

Tapi menurut pandangan kami pribadi, tidak ada hal yang berbau mistis, baik itu dari wayang atau kuda lumping.

Kami hanya melihat: penggunaan dua properti ini bukan jadi sesuatu yang perlu diperdebatkan. Baik wayang ataupun kuda lumping, keduanya masih sama-sama wajar: sama-sama berada pada satu garis konsep yang sama dengan tema lagu. Jadi it’s ok. Harunya tidak ada masalah.

5. Munculnya debus – Lathi Challenge

Mungkin hal ini jadi salah satu yang memperkuat asumsi bahwa Lathi adalah sebuah mantra.

Seperti diketahui, debus sendiri adalah kesenian asli Indonesia. Biasanya, dalam praktiknya, beberapa orang mempelajari seni ini dengan proses yang lama. Beberapa lagi bahkan harus berkutat dengan ragam mantra agar proses debus berjalan dengan baik.

Inilah yang kemudian membuat ustadz tetangga Upin Ipin ini menganggap Lathi adalah sesuatu yang syirik. Padahal tidak ada kaitan antara keduanya.

Debus memang kesenian klasik Indonesia. Tapi belakangan seni ini tidak melulu dikaitkan dengan ritual layaknya pesugihan dan sejenisnya. Sekarang juga tidak ada lagi mantra. Beberapa adegan debus bahkan bisa dipelajari dengan trik. Dan itu dilakukan oleh Limbad.

6. Munculnya sosok seram – Lathi Challenge

Nah, mungkin ini yang jadi alasan kenapa ustadz tadi menganggap Lathi sebagai sebuah mantra.

Kemunculan para sosok seram ini memang membuat Lathi menjadi lagu dengan video clip yang bikin orang merinding. Wajar sih. Mungkin sang creator memang menginginkan kesan yang demikian.

Tapi, karena penggunaan sosok ini, Lathi pun jadi dianggap lagu pemanggil kuntilanak. Padahal mana ada kuntilanak yang mau dateng hanya karena lagu. Apalagi lagunya bahasa Inggris lagi. Mereka mana ngerti. Secara, sampai 2020 ini masih belum ada tuh kuntilanak yang lulus dari Sastra Inggris.

7. Hanya melihat satu sudut pandang – Lathi Challenge

Kami melihat sang sender hanya punya satu pandangan. Maksud kami, ia tidak benar-benar melihat Lathi sebagai sebuah karya: hasil dari kreativitas putra putri Indonesia.

Padahal seseorang tidak boleh melihat suatu hal dari satu sudut pandang saja. Terlebih bila itu kaitannya dengan kepentingan publik.

Lathi akan dianggap seram jika kalian hanya menganggap lagu ini sebagai sebuah mantra. Padahal jika kalian melihat dari sisi karya dan seni, tidak ada mantra, tidak ada sesuatu yang seram.

Kalian juga seyogyanya melihat dari dalam. Jika kalimat berbahasa Jawa dianggap seram, cobalah untuk melihat artinya secara tekstual dulu. Lihat apakah secara tekstual lirik tadi nyambung dengan tema lagu atau tidak. Jika memang masih nyambung, ya, wajar kalau Arap CS menggunakan lirik tadi.

Baca juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *