Top List

5 Fakta Menarik Soal Hari Buku Nasional

Hari buku nasional – Di dunia Internasional, orang – orang biasa memperingati Hari Buku Sedunia yang berlangsung pada 23 April. Di Indonesia, kita bukan hanya memperingati satu hari buku saja, tapi juga dua hari buku. Di samping Hari Buku Sedunia, juga memperingati Hari Buku Nasional.

Jika Hari Buku Sedunia dilaksanakan tanggal 23 April, maka Hari Buku Nasional ini diadakan setiap tanggal 17 Mei setiap tahunnya. Ada banyak kisah dan fakta menarik yang ada di balik hari peringatan ini. Kisah dan fakta ini sebenarnya cukup menarik, maka tidak ada salahnya untuk mengetahui beberapa fakta di balik Hari Buku Nasional ini.

Bagi Anda pecinta buku, berikut ini adalah beberapa fakta menarik mengenai Hari Buku Nasional yang layak untuk Anda ketahui:

Hari Buku Nasional

1. Hari Buku Nasional Bersamaan Dengan Berdirinya Perpustakaan Nasional

Hari Buku Nasional diperingati pada tanggal 17 Mei. Pada tanggal ini juga, Perpustakaan Nasional pertama kali didirikan. Perpustakaan yang didirikan di Jakarta ini, bukan hanya menjadi Perpustakaan Nasional pertama di Indonesia saja. Tapi juga menjadi gedung perpustakaan pertama yang berdiri di Indonesia.

Sebenarnya, sebelum gedung perpustakaan pertama tersebut dibangun, sebenarnya wacana untuk membangun gedung perpustakaan sudah ada sejak lama. Bahkan sejak masa colonial Belanda. Sebelumnya, cikal bakal perpustakaan ini bernama Bataviaasch Genootschap dan pertama kali berdiri 24 April 1778. Namun, cikal bakal perpustakaan ini berakhir di 1950.

2. Dicetuskan Oleh Mendikbud Era Megawati Soekarnoputri

Awal pendirian Perpustakaan Nasional di Indonesia inilah yang menjadi inspirasi lahirnya Hari Buku Nasional. Kemudian, di tahun 2002, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Gotong Royong yang saat itu dipegang oleh Abdul Malik Fajar mencetuskan ide untuk mengadakan hari peringatan ini.

Penetapan Hari Buku Nasional ini juga merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memacu tingkat literasi di masyarakat. Selain itu, hari peringatan ini juga menjadi upaya peningkatan minat baca di Indonesia sekaligus meningkatkan penjualan buku di tanah air.

3. Hari Buku Nasional Sebagai Sarana Meningkatkan Minat Baca

Hari Buku Nasional Sebagai Sarana Meningkatkan Minat Baca

Jika bicara soal tingkat melek huruf, sebenarnya Indonesia memiliki tingkat melek huruf yang cukup tinggi. Bahkan 96,07 persen orang Indonesia sudah bisa membaca dan menulis. Artinya, hampir sebagian besar masyarakat Indonesia sudah memiliki kemampuan membaca.

Angka ini seharusnya cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai negara dengan penduduk yang banyak membaca.  Akan tetapi, jika dibandingkan dengan tingkat melek huruf tersebut, ternyata minat baca orang Indonesia masih sangat rendah. Bahkan dari sekitar 1000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang saja yang rajin membaca.

Angka ini tentu saja sangat memprihatinkan. Apalagi jika dibandingkan dengan negara – negara lainnya. Karena itu, peringatan hari buku ini seringkali dijadikan sarana mengenalkan masyarakat terhadap berbagai jenis tema bacaan di Indonesia dan juga membantu meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

4. Hari Peringatan Buku Untuk Ribuan Penerbit Indonesia

Dengan jumlah penduduk yang mencapai 265 juta jiwa dan tingkat melek huruf yang tinggi, sebenarnya Indonesia merupakan pasar penjualan buku yang sangat potensial. Meskipun memang tingkat minat baca Indonesia masih cukup rendah. Namun, ketersediaan banyaknya tema bacaan membuat pasar buku sebenarnya masih cukup diminati.

Apalagi, jika melihat ada lebih dari 1.300 penerbit yang ada di Indonesia. Sayangnya, dari ribuan penerbit tersebut, hanya ada sebagiannya yang masih aktif. Bahkan tidak sampai 60 persen dari keseluruhan penerbit yang ada di Indonesia tersebut.

Sebenarnya, supaya suatu penerbit dikatakan sebagai penerbit yang aktif, indikatornya cukup mudah. Suatu penerbit, hanya perlu menerbitkan sekitar 10 buku saja secara rutin per tahun. Meskipun standar ini relative rendah, namun tidak semua penerbit mampu memenuhi persyaratan penerbitan ini.

5. Hari Buku Nasional Ajang Mengenalkan E-Book Kepada Masyarakat

Selain buku fisik, era kemajuan teknologi juga memberikan alternative baru dalam dunia kepustakaan dan pemasaran buku. Salah satunya adalah buku dalam bentuk digital atau e-book. Beberapa orang pun sudah mulai mengenal e-book atau buku digital ini.

Salah satu keunggulan buku digital ada di kepraktisannya dalam penggunaannya. Buku fisik biasanya memiliki dimensi dan perlu tempat penyimpanan khusus. Sehingga, kadang kala membawa buku fisik ke berbagai tempat tidak terlalu praktis. Sedangkan buku digital bisa disimpan dalam bentuk data yang lebih praktis dan tentu saja lebih ringan untuk dibawa dan dibaca di berbagai kondisi.

Dari sisi penerbit pun, sudah ada beberapa penerbit yang mulai melirik penerbitan buku dalam bentuk buku digital atau e-book. Salah satu alasannya karena penerbitan buku dalam bentuk digital ini terlihat memiliki prospek bisnis yang relatif baik. Dan juga mampu menjangkau pasar yang relative lebih luas tanpa memerlukan adanya ekspedisi atau pengiriman.

Sayangnya, tidak semua penerbit mengambil kesempatan ini. Kurang lebih baru sekitar 20 persen dari penerbit di Indonesia yang terhitung sebagai penerbit aktif yang sudah mulai merambah segmen buku digital ini. Namun, memang peningkatan minat baca masyarakat ini memerlukan kerja sama dari semua pihak yang terlibat, baik dari masyarakat, penerbit, maupun IKAPI sebagai wadah bagi berbagai penerbit di Indonesia.

Baca juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *